Homo Homini Lupus - Homo Homini Socio / Tugas II

Rabu, 20 Oktober 2010


NAMA                : RINANDA NUR RIZKI
KELAS               : 1KA21
NPM                   : 15110979

 Homo Homini Socio
Manusia atau orang dapat mengartikannya secara berbeda-beda menurut biologis, rohani,dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan
sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan
mamalia yang dilengkapi otak yang mempunyai kemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian,
manusia dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama,
hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup, dalam mitos mereka juga
seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan
berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta
perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk
kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Meskipun banyak spesies berprinsip sosial, membentuk kelompok berdasarkan ikatan /
pertalian genetik, perlindungan-diri, atau membagi pengumpulan makanan dan
penyalurannya, manusia dibedakan dengan rupa-rupa dan kemajemukan dari adat kebiasaan
yang mereka bentuk entah untuk kelangsungan hidup individu atau kelompok dan untuk
pengabadian dan perkembangan teknologi, pengetahuan, serta kepercayaan. Identitas
kelompok, penerimaan dan dukungan dapat mendesak pengaruh kuat pada tingkah laku
individu, tetapi manusia juga unik dalam kemampuannya untuk membentuk dan beradaptasi
ke kelompok baru.
Sudah jelas bahwa manusia yang dimaksud di dunia tidak dapat hidup sendiri, dan tidak
akan bisa hidup sendiri. Karena itu manusia juga disebut makhluk sosial(homo homini
socio) , makhluk yang hidup berkelompok. Manusia membutuhkan informasi-informasi
untuk mengetahui keadaan kehidupan yang ada, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga
pertahanan hidup di dunia ini.
Bukan baru-baru ini manusia sebagai makhluk sosial, tetapi sudah berabad-abad lamanya,
sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, manusia sangat membutuhkan satu sama lain,
karena beberapa alasan, tetapi ada beberapa alasan yang sangat dominan yaitu :
1. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pangan, atau
jasmaninya.
2. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pertahanan diri
untuk bertahan hidup.
3. Manusia juga sangat membutuhkan interaksi dan sosialisasi atas dasar untuk
melangsungkan jenis atau keturunan.
Dari beberapa point di atas dapat kita simpulkan bahwa manusia memang tidak dapat hidup
sendiri,dan butuh bantuan dari makhluk hidup lainnya dalam menjalankan
aktifitasnya,karena memang manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi dalam
menjalankan hidupnya.Dalam arus globalisasi yang berkembang sangat cepat ini manusia
menjadi makhluk yang sangat mudah meniru dalam arti meniru sesuatu yang ada di
masyarakat yang terdiri dari :
1. Manusia mudah meniru atau mengikuti perkembangan kebudayaan-kebudayaan,
dimana manusia sangat mudah menerima bentuk-bentuk perkembangan dan
pembaruan dari kebudayaan luar, sehingga dalam diri manusia terbentuklah
pengetahuan, pengetahuan tentang pembaruan kebudayaan dari luar tersebut.
2. Penghematan tenaga dimana ini merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu
menggunakan banyak tenaga dari manusia, sehingga kinerja mnausia dalam
masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.
Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu
bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud
adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor
personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :
1. Tekanan Emosional. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu
sama lain.
2. Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia
yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan
dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan
membutuhkan kasih sayang orang lain atau dukungan moral untuk membentuk
kondisi seperti semula.
3. Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang
sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis.
Definisi Manusia
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.         
Meskipun banyak spesies berprinsip sosial, membentuk kelompok berdasarkan ikatan / pertalian genetik, perlindungan-diri, atau membagi pengumpulan makanan dan penyalurannya, manusia dibedakan dengan rupa-rupa dan kemajemukan dari adat kebiasaan yang mereka bentuk entah untuk kelangsungan hidup individu atau kelompok dan untuk pengabadian dan perkembangan teknologi, pengetahuan, serta kepercayaan. Identitas kelompok, penerimaan dan dukungan dapat mendesak pengaruh kuat pada tingkah laku individu, tetapi manusia juga unik dalam kemampuannya untuk membentuk dan beradaptasi ke kelompok baru.
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan interaksi antar manusia.


Definisi Homo Homini Socio 1

Manusia, sudah jelas bahwa manusia yang dimaksud di dunia tidak hidup sendiri, dan tidak akan bisa hidup sendiri. Karena itu manusia juga disebut makhluk sosial, makhluk yang hidup berkelompok. Manusia membutuhkan informasi-informasi untuk mengetahui keadaan kehidupan yang ada, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan survive atau juga pertahanan hidup di dunia ini.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai aturan-aturan atau peradaban yang berbeda beda di dunia ini, setiap titik tempat pasti mempunyai peraturan yang berbeda beda. Peraturan tersebut dibuat untuk mentertibkan dan menyesuaikan dengan keadaan titik tempat tersebut, dan juga dibuat untuk mentertibkan komunikasi antar manusia.

Bukan baru-baru ini manusia sebagai makhluk sosial, tetapi sudah berabad-abad lamanya, sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, manusia sangat membutuhkasn satu sama lain, karena beberapa alasan, tetapi ada beberapa alasan yang sangat dominan yaitu :

1. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pangan, atau jasmaninya.
2. Manusia butuh berinteraksi dan bersosialisasi atas dasar kebutuhan pertahanan diri, atu kita bisa sebut survival, untuk bertahan hidup.
3. Manusia juga sangat membutuhkan interaksi dan sosialisasi atas dasar melangsungkan jenis atau keturunan.

Dari point-point di atas kita bisa melihat dan membayangkan bagaimana manusia sangat membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya membutuhkan, tapi masyarakat atau kumpulan manusia yang berinteraksi adalah suatu komponen yang tidak terpisahkan dan sangat ketergantungan. Sehingga komunikasi antar masyarkat dientukan oleh peranan manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial.

Globalisasi, adalah perubahan secara besar-besaran atau secara umum meluas. Dalam arus globalisasi yang berkembang sangat cepat ini manusia menjadi makhluk yang sangat mudah meniru dalam arti meniru sesuatu yang ada di masyarakat yang terdiri dari :

1. Manusia mudah meniru atau mengikuti perkembangan kebudayaan-kebudayaan, dimana manusia sangat mudah menerima bentuk-bentuk perkembangan dan pembaruan dari kebudayaan luar, sehingga dalam diri manusia terbentuklah pengetahuan, pengetahuan tentang pembaruan kebudayaan dari luar tersebut.

2. Penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia, sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.

Secara umum, keinginan manusia untuk meniru bisa terlihat jelas dalam suatu ikatan kelompok, tetapi hal ini juga kita dapat lihat di dalam kehidupan masyarakat secara luas.Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.

Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :

1. Tekanan Emosiaonal. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.
2. Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
3. Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis.

Definisi Homo Homini Socio 2
Setiap makhluk tidak bisa hidup sendiri dalam menjalani umurnya di dunia ini, makhluk pertama yang bernama Adam pun melakukan komplain kepada Allah SWT atas kesendirian beliau hingga diciptakanlah makhluk yang bernama Hawa. Begitu juga kita sebagai keturunan Nabi Adam pasti juga demikian, atas kasih sayang Allah SWT terhadap seluruh hamba-Nya di dunia ini maka kita diciptakan berpasang-pasangan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa sebagai bentuk hubungan antar makhluk ciptaan Allah SWT dengan tujuan agar kita saling kenal mengenal. Siapapun anda, sekurang-kurangnya memiliki 100 orang yang dikenal. Setiap orang di sekitar kita pasti berpengaruh kepada kita; baik positif maupun negatif sebagaimana kata Aa’ Gym dalam ceramah beliau: berteman dengan orang yang jual minyak wangi maka kita akan kena wanginya, kalau berteman dengan pande besi maka bau pande besi. Namun bukan berarti kita harus mengesampingkan orang-orang yang berpengaruh buruk dan menghambat perjalanan kita meraih kesuksesan. Sebaliknya, kitalah yang harus memperkuat pengaruh positif agar dapat merubah pengaruh negatif tersebut. Teringat pesan orang tua penulis “Jadilah Muhammad (pen: Nabi Muhammad) yang merubah orang-orang di sekitarnya’, pesan tersebut memiliki makna bahwa kita harus menebarkan kebaikan di manapun, kepada siapa pun dan kapan pun.
Kenapa kita perlu bergaul? Karena kita makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya, binatang yang hanya mengandalkan nafsunya pun memerlukan binatang lainnya dalam dunia kebinatangannya, apalagi manusia yang hidup dengan pikiran, nafsu dan perasaan. Jadi, pergaulan atau yang kita kenal dengan silaturrahmi adalah proses pengembangan akses dan bukan jamannya lagi mengembangkan aset, karena aset pada umumnya ada karena kita memiliki akses sebagai sarana mendapatkan aset seperti sabda Rasulullah: siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia menyambung tali silaturrahim. (HR. Bukhari). Begitu indah silaturrahim dalam kehidupan ini dan memiliki banyak manfaat sebagai eksistensi kita sebagai manusia, sepengetahuan saya manfaat dari silaturrahim diantaranya. 1) Belajar dari pengalaman orang lain, hal ini sangat penting mengingat waktu kita sangat terbatas untuk mengenyam berbagai pengalaman. Mendengar cerita kesuksesan seseorang dalam menekuni bisnisnya selama 5 tahun, berarti kita telah menghemat waktu yang cukup banyak untuk mendapatkan pengalaman dalam bidang tersebut. Bagaimana jika kita banyak berdialog dengan banyak orang yang memiliki jutaan pengalaman?. 2) Memanfaatkan relasi teman, menurut saya ini metode Multi Level Marketing (MLM), apabila kita punya 10 orang kenalan yang prospektif dan memiliki akses 100 orang yang berpengaruh, maka minimal kita telah memiliki akses 100 orang yang berpengaruh juga. 3) Kekurangan kita tertutup, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan dalam dirinya, semisal anda tidak bisa mengendarai mobil, maka manfaatkanlah teman anda untuk mengendarainya dan manfaatkan dia untuk mengajari anda mengendarai mobil. 4) Pasar yang potensial, bisnis apapun yang kita miliiki, pasar atau komunitas yang pertama kali harus dibidik adalah orang terdekat atau teman. Karena merekalah yang telah mengenal dan mengetahui reputasi kita, sebab membangun kepercayaan pun di tengah-tengah mereka menjadi lebih mudah. 5) P3K, artinya pertolongan pertama pada kecelakaan. Ingat masa di pondok pesantren, orang yang pertama kali tempat kita meminjam uang adalah teman, bukan pak kyai ataupun jasa peminjaman uang. Orang yang pertama kali menolong dikala sakit adalah teman. Dan masih banyak lagi manfaat dari sebuah pergaulan positif dengan relasi kita.

Hubungan antar manusia juga sama seperti kita melakukan investasi uang di bank, jika kita memberikan sesuatu yang positif terhadap orang lain, berarti kita telah menabung ke bank emosi seseorang. Sebaliknya, ketika kita melakukan sesuatu yang negatif kepada seseorang, maka kita seakan-akan menarik uang yang kita tabung hingga minus atau tidak memilki tabungan sama sekali. Seseorang pemimpin tidak harus yang kuat dan hebat, tetapi pemimpin yang mempunyai paling banyak teman atau koneksi.

Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.
Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

Sosialisasi
Peter Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses di mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978:116).
Salah satu teori peranan dikaitkan sosialisasi ialah teori George Herbert Mead. Dalkam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind, Self, and Society (1972). Mead menguraikan tahap-tahap pengembangan secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain, yaitu melalui beberapa tahap-tahap play stage, game sytage, dan tahap generalized other.
Menurut Mead pada tahap pertama, play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Pada tahap game stage seorang anak tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Pada tahap ketiga sosialisasi, seseorang dianggap telah mampu mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat yaitu mampu mengambil peran generalized others. Ia telah mampu berinteraksi denagn orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peranan orang-orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Menurut Cooley konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini oleh Cooley diberi nama looking-glass self.
Cooley berpendapat looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap. Tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenaoi pandangan orang lain terhadapnya. Pada tahap berikut seseorang mempunyai persepsi mengenai penilain oreang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu.
Pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi itu menurut Fuller and Jacobs (1973:168-208) mengidentifikasikan agen sosialisasi utama: keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan


Definisi Homo Homini Socio 4
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.
Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, "manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.
Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.

Definisi Homo Homini Socio 5
Manusia sejak lahir sampai mati selalu hidup dalam masyarakat, tidak mungkin manusia di luar masyarakat. Aristoteles mengatakan: bahwa makhluk hidup yang tidak hidup dalam masyarakat ialah sebagai seorang malaikat atau seorang hewan (Hartomo, 2004: 75).
Di India oleh Mr. Singh didapatkan dua orang anak yang berumur 8 tahun dan 1 ½ tahun. Pada waktu masih bayi anak-anak tersebut diasuh oleh srigala dlam sebuah gua. Setelah ditemukan kemudian naka yang kecil mati, tinggal yang besar. Selanjutnya, walaupun ia sudah dilatih hidup bermasyarakat sifatnya masih seperti srigala, kadang-kadang meraung-raung di tengah malam, suka makan daging mentah, dan sebagainya.
Juga di Amerika dalam tahun 1938, seorang anak berumur 5 tahun kedapatan di atas loteng.karena terasing dari lingkungan dia meskipun umur 5 tahun belum juga dapat berjalan dan bercakap-cakap.jadi jelas bahwa manusia meskipun mempunyai bakat dan kemampuan, namun bakat tersebut tidak dapat berkembang, nika tidak ada lingkungan. Itulah sebabnya manusia dikatakan sebagai makhluk sosial (Hartomo, 2000: 77).
Di samping adanya hasrat-hasrat atau golongan instingtif pada manusia masih terdapat factor-faktor yang lain yang mendorong manusia untuk hidup bermasyarakat. Faktor-faktor itu adalah:
1. Adanya dorongan seksual, yaitu dorongan manusia untuk mengembangkan keturunan atau jenisnya.
2. Adanya kenyataan bahwa manusia adalah serba tidak bisa atau sebagai makhluk lemah.karena itu ia selalu mendesak atau menarik kekutan bersama, yang terdapat dalam perserikatan dengan orang lain.
3. Karena terjadinya habit pada tiap-tiap diri manusia. Manusia bermasyarakat karena ia telah biasa mendapat bantuan yang berfaedah yang diterimanya sejak kecil dari lingkungannya.
4. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan territorial, nasib, keyakinan/cita-cita, kebudayaan, dan lain-lain.

Definisi Homo Homini Socio 6
Pengembangan manusia sebagai makhluk sosial dalam kerangka (bingkai)pendidikan
Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi, makhluk individu. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa ia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya, termasuk manusia lainnya. Ia tidak tinggal dan hidup sendirian saja. Sebaliknya selalu berada bersama dan berhubungan dengan makhluk-makhluk serta orang-orang lainnya.
Kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok sebenarnya bukanlah sekedar suatu naluri atau keperluan yang diwariskan secara biologis semata-mata. Akan tetapi dalam kenyataannya manusia berkumpul sampai batas-batas tertentu juga menunjukkan adanya suatu ikatan sosial tertentu. Mereka berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi antar manusia merupakan suatu kebutuhan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Individu yang satu pasti akan membutuhkan individu yang lain, karena seorang individu tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan individu lain. Jadi kehidupan berkelompok merupakan kebutuhan mutlak. Maka timbullah kelompok-kelompok sosial (social group) di dalam kehidupan manusia. Kelompok-kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama.
Di dalam kehidupan manusia, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga negara masyarakat, dan warga. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.
Manusia dan masyarakatnya bukan merupakan dua realitas yang asing satu sama lain, yang saling mempengaruhi dari luar, melainkan membentuk horison dinamis dalam hubungan yang dialektis. Keduanya merupakan lapangan kerjasama dengan dorongan dialektis, saling memajukan dan saling memperkembangkan . Untuk itu kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama antarmanusia bukan hasil seseorang. Sebagai konsekuensinya, manusia dan masyarakatnya merupakan dua momen itu saling melengkapi atau komplementer.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, karena Manusia tunduk pada aturan, norma sosial, Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain, Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain, Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, "manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.
Kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok sebenarnya bukanlah sekedar suatu naluri atau keperluan yang diwariskan secara biologis semata-mata. Akan tetapi dalam kenyataannya manusia berkumpul sampai batas-batas tertentu juga menunjukkan adanya suatu ikatan sosial tertentu. Mereka berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi antar manusia merupakan suatu kebutuhan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Individu yang satu pasti akan membutuhkan individu yang lain, karena seorang individu tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan individu lain. Jadi kehidupan berkelompok merupakan kebutuhan mutlak. Maka timbullah kelompok-kelompok sosial (social group) di dalam kehidupan manusia. Kelompok-kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama.
3. Pengembangan manusia sebagai makhluk Susila
Kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat menggambarkan adanya nilai-nilai sosial yang hidup dalam masyarakat, yang sangat dihargai dan dijunjung tinggi oleh masyarakat karena berguna sebagai pedoman dalam kehidupannya. Menurut Hendropuspito, nilai sosial adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan hidup bersama. Hal-hal yang dihargai masyarakat dapat berupa orang, benda, hewan, sikap, perbuatan, perilaku, cara berfikir, dan pandangan.
Kehidupan manusia yang tidak dapat lepas dari orang lain, membuat orang harus memiliki aturan-aturan norma. Aturan-aturantersebut dibuat untuk menjadikan manusia menjadi lebih beradab. Menusia akan lebih menghargai nilai-nilai moral yang akan membawa mereka menjadi lebih baik.
4. Pengembangan Manusia Sebagai Mahluk Religius
Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencari sesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.
Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk beribadah kepada Tuhan pun diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut diperoleh melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengenal siapa Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengerti bagaimana cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui sebuah pendidikan yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat mengerti bagaimana seharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan baik yang tersirat ataupu dengan jelas tersurat dalam lingkungan sehari-hari.
Manusia merupakan karya allah swt, yang terbesar dilihat dari potensi yang dimilikinya. Manusia merupakan satu-satunya makhluk allah yang aktivitasnya mampu mewujudkan begian tertinggi dari kehendak tuhan dan menjadikan sejarah (QS. 5: 56 dan QS. 75: 36), serta menjadi makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperluka. Syarat-syarat tersebut menjadikan manusia mampu mengadakan hubungan timbal balik dengan alam dan sesamanya serta dengan pencipta dirinya yang juga pencipta alam.
Homo Homini Lupus
 “Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya” atau juga disebut “Homo homini Lupus ” istilah ini pertama kali di kemukakan oleh plautus pada tahun 945,yang artinya sudah lebih dari 1500 tahun dan kita masih belum tersadar juga. di jaman sekarang ini sangat sulit Menjadikan Manusia seperti seorang manusia pada umumnya,sepertinya istilah ini masih tetap berlaku sampai sekarang.
Tidak bisa dipungkiri Hidup di dalam suatu negara sangat di butuhkan sosialisasi karena kita tidak dapat Hidup dengan sendirinya tanpa ada manusia lain.Apalagi seperti keadaan sekarang ini kita Hidup di jaman yang serba susah .Demi mempertahankan hidup itu sendiri kita rela melakukan apa saja Mulai dari yang halal sampai yang Haram, tentunya semua itu kita lakukan  untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.Untuk mewujudkan itu semua memang tidak mudah dimana kita harus menghadapi berbagai konflik yang akan memicu lahirnya sikap saling mangsa Dan disinilah Peran Hati nurani & ego sangat dibutuhkan.
gambaran manusia di jaman sekarang ini sangatlah mengerikan dari segi sikap dan perbuatan terkadang lebih keji dari pada hewan yang paling buas sekalipun,saling sikut,saling berebut saling tikam bahkan saling memangsa layaknya serigala yang buas siap menerkam mangsanya demi sebuah kepuasan (ambisi).
sebagai contoh yang terjadi di dalam kehidupan kita seperti tindakan kekerasan,mulai dari perkelahian ,pembunuhan,pemerkosaan,serta aksi teror pemboman yang sedang trend di negara kita dan perang dunia yang memungkinkan akan terjadi lagi. Apakah itu disebut manusia ? Tidak. Kenapa tidak? Karena itu semua manusia yang melakukanya dan dilakukan terhadap manusia juga ? entahlah..’
Pengakuan sebagai umat beragamapun yang telah patuh terhadap ajaranya kerap kali sebagai alasan tindakan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Banyak pelaku kekerasan seperti tersebut menyatakan ini masalah iman, masalah Tuhan atau masalah kebenaran (kebenaran yang ditafsirkan manusia itu sendiri).
untuk menghadapi ini semua haruskah kita pun menjadi serigala ? atau hanya diam dan menjadi domba yang berada di tengah-tengah gerombolan para serigala lapar ?

homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lain) dipopulerkan oleh Thomas Hobbes, seorang filsuf dari Inggris, untuk menggambarkan situasi masyarakat yang diwarnai oleh persaingan dan peperangan. Siapa pun bisa menjadi musuh. Manusia yang satu bisa “memakan” dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang ingin dicapai. “Bellum omnium contra omnes” (perang semua melawan semua).



WE KNOW NOTHING OR WE KNOW ALL THINGS

Sabtu, 16 Oktober 2010

 

Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan kepada kita sesuatu yang sangat berharga,
dan pemberian itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya yang diciptakan Allah SWT,
yakni apa yang disebut dengan "akal", dengan akal tersebut kita di suruh untuk berpikir. Mencari tahu
apa-apa yang ada di atas permukaan bumi ini, menganalisis sesuatu, serta menemukan akar
permasalahannya, selanjutnya ditemukan solusi dan alternatif pemecahannya, kemudian diberikan
kesimpulan dan beberapa rekomendasi sebagai suatu proses dari rasa keinginan tahuan terhadap
suatu persoalan.
Koentjaraningrat seorang Antropolog mengatakan bahwa suatu ciri khas manusia adalah bahwa ia
selalu ingin tahu; dan setelah itu ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka segera
kepuasannya disusul lagi dengan kecendrungan untuk ingin lebih tahu lagi. Begitulah seterusnya,
hingga tidak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya
sebagai titik terminasi yang mantap.
Sifat keingintahuan tersebut kalau direnung-renung dengan akal sehat, merupakan kodrati manusia,
keingintahuan" terhadap sesuatu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukannya. Di dalam kehidupan
sehari-hari manusia secara langsung sifat tersebut teraplikasi di dalam dirinya. Alam yang terben-
tang luas ini merupakan "rahasia" yang perlu dipikirkan dan dikaji oleh kita dan banyak masalah-
masalah yang perlu dikaji, baik masalah pendidikan, sosial budaya, sosial ekonomi, dekadensi moral,
dan sebagainya.
Dari rasa keingintahuan itulah akan menimbulkan budaya meneliti bagi seseorang, apalagi seorang
pendidik, dalam hal ini guru. Guru yang baik adalah guru yang mau belajar, mau membaca dan mau
mendengar sehingga memiliki kemampuan dan wawasan berpikir ilmiah. Ilmu pengetahuan dan
teknologi, dengan hitungan detik dan menit senantiasa berubah, guru harus mampu
mengakselerasikan perubahan tersebut, kalau tidak maka akan terasa kerdilnya kita.
Budaya meneliti harus selalu dikembangkan dan diaplikasikan, dengan budaya tersebut, maka kita
tahu dan paham dengan berbagai persoalan dan menemukan solusinya, demikian pula akan mampu
memberikan suatu kesimpulan dari suatu permasalahan. Mana kita tahu, mengapa nilai belajar anak
didik kita merosot, selama ini kita hanya menyalahkan anak didik kita yang malas belajar, kurikulum
yang terlalu padat, atau alat evaluasilah yang kurang shahih, atau gurulah yang tidak mampu
mengajar, hal-hal tersebut bisa saja dijadikan indikator. Akan tetapi ada hal-hal mustahak yang tidak
kita ketahui, bagaimana untuk mengetahui persoalan yang mustahak itu, harus melalui suatu
penelitian.
Dengan penelitian itulah kita mengetahui dan memahami akar permasalahan (grassroot), dan dengan
demikian akan menjadi suatu rekomendasi yang sangat berharga bagi perkembangan dan kemajuan
dunia pendidikan. Selanjutnya bagi pelaksana pendidikan maupun para pengambil keputusan kiranya
dapat menjadi bahan pertimbangan untuk terus memacu dan meningkatkan kinerjanya ke depan.
Karena pada kesempatan ini guru berkecimpung dalam dunia pendidikan, maka masalah yang perlu
kita teliti tentu menyangkut masalah pendidikan. Selain dari pada itu yang perlu diketahui oleh guru
bahwa budaya meneliti itu berguna bagi guru ? Budaya meneliti bagi guru dimulai dari suatu masalah,
ketidak sesuaian antara desain dan desollen, antara apa yang ada dengan apa yang akan
diharapkan. Akibat ketidaksesuaian tersebutlah menimbulkan permasalahan, dan dari permasalahan
tersebut dilakukan kajian, dan dari kajian itu kita menemukan jalan keluarnya.
Sebenarnya banyak hal yang dapat menjadi bahan kajian dari guru, jika guru ingin mengembangkan
budaya meneliti. Karena guru secara langsung terlibat di dalam proses belajar mengajar, setiap saat
guru bertungkuslumus dengan berbagai permasalahan, apakah menyangkut dengan hasil belajar
anak, disiplin belajar anak, proses pembelajaran guru, hubungan guru dengan siswa, unjuk rasa para
siswa, tata tertib sekolah, tata krama siswa, keterampilan mengajar guru, organisasi siswa, peran
orang tua terhadap anak, dan masih banyak persoalan yang dapat dikembang dalam suatu
penelitian.




 Demikian pula persoalan yang ditemukan di luar lingkungan sekolah, seperti kenakalan remaja, tertib
berlalu lintas, maraknya narkoba, kebut-kebutan dijalan, prostitusi, judi dan minuman keras, Wanita
Tuna Susila, siskamling, tawuran antara pelajaran, dan masih banyak persoalan yang dapat diangkut
oleh guru, kalau benar-benar ingin mengembangkan budaya meneliti.
Terasa dan sangat dirasakan sekali, sebenarnya budaya meneliti tidak terlepas dari kebiasaan
seseorang dalam tulis menulis ilmiah. Guru yang selalu melakukan kegiatan membuat karya ilmiah,
maka ini merupakan salah satu pengembangan budaya meneliti. Namun, budaya ini memang kurang
diminati para guru, dan guru kurang terbiasa melakukan hal ini, karena mungkin kesibukan mengajar
sehingga waktu untuk digunakan menulis dan meneliti kurang tersedia, atau bisa saja
ketidaktahuannya bagaimana menulis suatu karya ilmiah, dan mungkin saja menulis karya ilmiah
hanya tugas para dosen di perguruan tinggi saja, dan banyak faktor lainnya yang menyebabkan
keengganan guru dalam mengembangan budaya menulis atau meneliti.
Kalau benar-benar direnungkan, tidak ada kata "tidak bisa" di atas dunia ini, tidak ada kata sukar jika
dicoba. Belum dicoba sudah mengatakan tidak bisa dan sukar dilakukan, mana mungkin suatu
keinginan akan tercapai. Oleh sebab itu,memang diperlukan motivasi dan proaktif seseorang untuk
dapat mengembangkan budaya meneliti. Perlu diketahui kiat-kiat suatu penelitian, perlu banyak
membaca, mengamati, dan mengevaluasi, nah inilah yang menjadi modal bagi guru jika ingin
mengembangkan budaya meneliti. Bagaimana kita mau perang, jika strategi perang dan senjata yang
akan digunakan tidak kita ketahui, demikian pula untuk mengembangkan budaya ini, kita harus
memiliki seperti apa yang disebutkan di atas.
Ke depan, budaya meneliti akan menjadi suatu kewajiban bagi seorang guru, apalagi berkaitan
dengan kenaikan pangkat. Naif rasanya apabila anak didik kita rangsang untuk meneliti karya ilmiah
dalam rangka Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), guru pembimbing sendiri tidak pernah melakukan
suatu penulisan atau penelitian. Bagaimana kita bisa memberikan nilai suatu karya ilmiah, kita sendiri
belum pernah mencobanya, oleh sebab itu layak kiranya kita para guru sedini mungkin mencoba
untuk meluangkan waktu untuk mengembangkan budaya menulis dan meneliti ini, cobalah dengan
metode "trial and eror", biarlah pada awalnya penilaian orang belum baik, karena kita selalu bertanya
dan belajar terus,
Pengalaman menunjukan, bahwa pada tahap awal, apapun yang kita lakukan dan sangat-sangat
dirasakan pasti banyak kelemahan dan kekurangan. Kekurangan itu sangat dimaklumi, namanya
orang baru belajar, masih untung mau melakukan dari pada tidak sama sekali. Akan tetapi kita
berharap jangan sampai patah arang, hilang motivasi, dan jangan malu bertanya. maka tidak mustahil
suatu waktu karya kita akan bermutu, dan akan tetap mengembangkan budaya meneliti ini sampai
kapan pun.





Mencari Tahu Mengapa Kita Ada!




http://3.bp.blogspot.com/_J-0St2WBwnQ/S_gCN5gNr6I/AAAAAAAAHoc/juYWxpJNvsg/s320/ring-galaxy.jpg


Jakarta: Agaknya kenyataan bahwa materi dan partikel antimateri saling menghancurkan
memang tak terelakkan dan telah membingungkan para ahli fisika. Terutama soal bagaimana
kehidupan, alam semesta,
dan segala sesuatu yang bisa eksis.
Tetapi hasil terbaru dari ekperimen akselerator partikel mengaju bahwa materi agaknya akan
unggul pada akhirnya.
Penelitian telah menunjukkan pertanda kecil tapi cukup signifikan bahwa perbedaan 1 persen
antara jumlah materi dan antimateri yang dihasilkan, yang dapat menjadi petunjuk bagaimana
keberadaan kita (manusia) yang
mendominasi bisa muncul.
Teori saat ini, yang dikenal sebagai Model Standar dari partikel fisika, telah diprediksi
beberapa pelanggaran simetri materi-antimateri, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan
bagaimana alam semesta bisa muncul dengan sebagian besar terdiri dari materi dengan sisa
jejak samar antimateri.
Tapi eksperimen terbaru memuncul rasio ketidakseimbangan materi terhadap antimateri yang
melampaui ketidakseimbangan yang diprediksi oleh Model Standar. Secara khusus, fisikawan
menemukan perbedaan 1 persen antara pasang muons dan antimuons yang muncul dari
peluruhan partikel yang dikenal sebagai mesons B.
Hasil eksperimen ini telah diumumkan pada Selasa, berasal dari analisis data selama delapan
tahun dari Tevatron Collider di Departement of Energy’s Fermi National Accelerator
laboratory di Batavia, Illinois.
“Banyak dari kita merasa merinding ketika kita melihat hasilnya,” kata Stefan Soldner-




Rembold, seorang ahli fisika partikel di University of Manchester di Britania Raya. “Kami
tahu kami melihat sesuatu di luar apa yang telah kita
lihat sebelumnya dan melampaui apa yang bisa menjelaskan teori-teori saat ini.”
Tevatron Collider dan sepupunya yang lebih besar, Large Hadron Collider di CERN di Swiss,
dapat menghancurkan partikel materi dan antimateri bersama-sama untuk menciptakan
energi, serta partikel baru dan antipartikel.
Jika tidak, antipartikel hanya timbul karena peristiwa ekstrim seperti reaksi nuklir atau sinar
kosmis dari bintang-bintang sekarat.
Pengukuran dibuat oleh kolaborasi DZero, sebuah kelompok internasional beranggotakan 500
orang, masih dibatasi oleh jumlah tumbukan yang
tercatat sapai sejauh ini. Itu berarti fisikawan akan terus mengumpulkan data dan analisis
mereka.
Para peneliti datang dengan temuan terakhir mereka dengan melakukan analisis data buta,
sehingga mereka tidak melakukan bias terhadap analisis mereka berdasarkan apa yang
mereka diamati. Mereka telah mengirimkan hasilnya ke jurnal Physical Review D.
zonaindo.com


Editor: leni | Sumber: MedanTalk





















WE KNOW NOTHING IS BETTER WE KNOW ALLTHING? Mengapa demikian?
Bukankah mengatahui segala hal lebih baik di banding tidak mengetahui hal apa pun?






Mungkin kita pernah mendengar pepatah yang berbunyi “manusia tidak pernah puas”, saya
menangkap pepatah ini dalam dua pengertian yakni negatif dan positif. Negatif karena
terkadang dalam kehidupan ekonomi manusia tidak pernah puas akan apa yang telah
dimilikinya dan terus mencoba melebihi apa yang sudah jadi batas kemampuannya, sehingga
sehingga hidupnya bersifat konsumtif bukan produktif. Positif karena manusia tak pernah
puas akan ilmu, pengetahuan, informasi, dsb yang dimilikinya sehingga manusia akan terus
dan terus belajar dalam hidupnya. Inilah maksud dari “We Know Nothing” sebagai manusia
terus belajar dan menggali ilmu adalah hak tiap individu. Dalam menggali ilmu (pendidikan)
biasanya kita langsung berfikir tentang sekolah padahal menggali ilmu itu sendiri dibagi
menjadi 2 macam, formal dan non formal*:



· Pendidikan formal: merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-
sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang
jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

· Pendidikan nonformal: paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan
dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap
mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.Selain itu, ada juga
berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.
Program – program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A,
B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF
yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya.

Dalam dunia yang terus berkembang, tentu kita dituntut untuk terus belajar dan menggali
informasi. Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam menggali informasi baik itu membaca,
bergaul, bermain, dsb kita bisa mendapatkan informasi bahkan belajar suatu hal. Kita harus
membuka wawasan kita ke lingkungan sekitar, kita harus membuka mata dan telinga akan
apa yang ada di sekitar kita karena apa yang kita dapatkan di sekolah maupun perkuliahan
tidak akan bermakna jika kita tidak mengaplikasikannya di masyarakat. Di era globalisasi ini
setiap individu memang dituntut lebih kreatif, kekreatifitasan ini tentu bisa didapatkan dari
masyarakat. Orang yang menutup mata-telinganya akan apa yang ada dan terjadi di
masyarakat tidak akan pernah berkembang. Menutup mata-telinga maksudnya adalah tidak
mau mencari akan informasi dari lingkungan sekitar, baik itu dalam dunia nyata maupun
dunia maya.

Belajar tentu harus memiliki motivasi tertentu, mengapa demikian? Ini dikarenakan belajar
haruslah berdasarkan niat dari diri individu itu sendiri. Dengan adanya niat yang kuat akan
muncul suatu motivasi yang membuat belajar menjadi semakin mengasyikan. Belajar yang
monoton akan menimbulkan suatu kejenuhan. Inilah yang sedang marak terjadi di pendidikan
Indonesia. Begitu banyak tuntutan kepada murid baik itu tugas maupun materi pada
kurikulum yang padat dan berubah-ubah. Saat saya di SMA, guru saya pun ikut kerepotan
akan kurikulum pendidikan yang padat dan kerap kali berubah. Menurut saya situasi seperti
inilah yang membuat siswa-siswi stress, terbebani dalam belajar, dsb. Hal tersebut bisa kita
lihat dari perilaku siswa-siswi di sekolah seperti: bolos sekolah, nongkrong setelah pulang
sekolah (dengan anggapan untuk refreshing), dsb. Mungkin ada benarnya kalau belajar itu
tidak boleh enaknya saja, namun kita seharusnya mencontoh negara maju yang memiliki




system pendidikan lebih efektif. Kita ambil contoh dari Jepang, berikut adalah salah satu
sekolah menengah atas ternama di negeri matahari tersebut** :



Kita telah membahas apa maksud dari “WE KNOW NOTHING” , belajar dalah kata kata
kuncinya. Lalu bagaimana dengan “WE KNOW ALLTHING” mengapa mengetahui segala
hal tidak jauh lebih baik daripada mempelajari berbagai hal? Mengetahui berbagai hal
memang didambakan setiap orang, karena ini terkesan menggambarkan orang yang cerdas,
pandai, berwawasan luas, dsb. Namun tahukan kalian akan dampak yang negatif dari “WE
KNOW ALLTHING” ini? Kadang orang yang sudah mengetahui segala hal akan menjadi
sombong dan malas, karena dia merasa dirinya telah mencapai titik puncak dari suatu
pengetahuan. Ini juga bisa berdampak ke hubungan sosial, orang di sekitarnya tidak akan
memiliki interesting dalam berbicara dengan dirinya. Ini hanya sebagai contoh mengapa “WE
KNOW ALLTHING” tidak lebih baik dari “WE KNOW NOTHING” karena menurut saya
ini hanyalah perbedaan paham dan cara kita memandang bagaimana kita menghadapi ilmu
pengetahuan dan informasi di sekitar kita. Mudah saja, orang yang berfikiran “WE KNOW
NOTHING” akan terus berkembang dibandingkan dengan orang yang berfikiran “WE
KNOW ALLTHING”.

*** Tom Krause “Jika kau hanya melakukan apa yang kau tahu bisa kau kerjakan, kau tidak
akan bisa berbuat lebih.” Tom Krause (1934), motivator, guru, dan pelatih”. Kalimat emas ini
jelas menggambarkan jika kita hanya melakukan apa yang kita bisa dan ketahui itu hanyalah
akan menjadi sia-sia, karena kita tidak akan mendapatkan hal yang berguna untuk masa
depan kita. Mencoba hal baru adalah hal yang dianjurkan dalam quotes ini, karena dengan
bereksperimen akan hal yang belom pernah kita lakukan akan memberikan pengetahuan baru
yang tentunya akan berguna untuk masa depan kita. Kita tahu pengalaman adalah guru yang
paling baik, maka dari itu dengan kita mencoba berbagai hal kita akan mendapatkan
pengalaman-pengalaman yang membuat kita menjadi semakin matang. Masa muda adalah
masa yang berapi-api, begitulah yang dikatakan oleh raja dangdut Indonesia bang haji Rhoma
Irama. Menurut saya hal ini sangat positif dalam pengertian semangat yang tinggi dalam
meraih cita-cita juga berbagai hal tentang hidup. Hal tersebut juga bisa digunakan di berbagai
macam hal, sebagai contoh berikut ini adalah tips untuk menjalankan bisnis dari sebuah
pengalaman****:

Orang yang belajar dari pengalaman hidupnya adalah orang yang tergolong “WE KNOW
NOTHING” karena dia selalu belajar akan apa yang pernah dialaminya maupun akan apa
yang ada di depannya.

Dengan terus belajar dan berdoa tentu bisa meraih sukses. Tanpa perlu meniru orang lain kita
pun bisa meraihnya dengan cara kita sendiri.

Kutipan:

* http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan



Socrates



Bagi saya, all I know is that I know nothing , karena ketika aku tidak tahu apa keadilan, aku tidak
akan tahu apakah itu semacam kebajikan atau tidak, atau apakah orang yang memiliki itu bahagia
atau tidak bahagia .

Diogenes Laertius

 Socrates seperti dikutip dalam Kehidupan Eminent Filsuf

. Aku tahu apa-apa kecuali kenyataan ketidaktahuan saya.
. Seringkali ketika melihat massa hal untuk dijual, ia akan berkata pada dirinya sendiri,
'Berapa banyak hal Aku tidak membutuhkan! "
. Memiliki paling sedikit ingin, saya terdekat kepada para dewa.
. Hanya ada satu yang baik, pengetahuan, dan satu jahat, kebodohan.


 Varian: Satu-satunya kebaikan adalah pengetahuan dan kejahatan satu-satunya adalah
kebodohan. Plato terkenal akun sidang dan kematian Socrates.

. Saya melakukan apa-apa tetapi pergi tentang membujuk kalian semua, tua dan muda
sama, tidak mengambil pemikiran bagi orang-orang atau properti Anda, tetapi dan
terutama untuk peduli terhadap peningkatan terbesar jiwa. Saya memberitahu Anda
bahwa kebajikan tidak diberikan oleh uang, tetapi bahwa dari kebajikan datang uang
dan setiap yang baik lainnya manusia, publik maupun pribadi. Hal ini mengajar saya,
dan jika ini adalah doktrin yang merusak pemuda, saya orang nakal.
o Maaf, 30a-b


. lain.
o Maaf, 30e


. Kehidupan teruji bukan kehidupan yang berharga bagi manusia). (Ho de
. Varian Terjemahan:
(Lebih erat) Kehidupan unexamining bukan kehidupan yang berharga
bagi manusia
Kehidupan yang tidak teruji bukan kehidupan yang berharga.
Sebuah kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan yang
berharga.
Kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan bagi manusia.
Hidup tanpa penyelidikan bukan kehidupan yang berharga bagi pria.




. Jam keberangkatan telah tiba, dan kami menempuh jalan kami - aku mati dan kamu
untuk hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhan yang tahu.
o











en.wikipedia.org/wiki/Wikiquote:socrates

Apakah Kita Tahu Tidak?

Saya pikir jawaban simplist adalah kita tahu NOTHING tentang gravitasi.
hanya ada teori tentang apa sebenarnya gravitasi ... semua kita tahu dampaknya.
misalnya Maya tahu dengan akurasi yang sempurna atau hampir tentang perilaku
matahari sedemikian rupa sehingga mereka bisa memprediksi PreSession bumi.
Absolutly Buut mereka tidak tahu apa-apa TENTANG matahari, seperti fusi nuklir dan
foton.
Itu cukup banyak di mana kita berada pada saat ini. Kami memahami perilaku gravitasi
dengan tingkat akurasi yang luar biasa, namun kita tahu absolutly apa-apa tentang
gravitasi.



 Ini menyesatkan. Jika Anda melihat hati-hati di segala sesuatu yang Anda pikir Anda
tahu, Anda akan melihat bahwa semua yang Anda tahu adalah sebenarnya hanya
kemampuan Anda untuk menjelaskan sesuatu. Pengetahuan dari serangkaian sifat dan
perilaku dari sesuatu adalah apa yang merupakan kemampuan Anda untuk mengatakan
bahwa Anda tahu apa itu. Sekarang tidak berarti bahwa Anda tahu SEMUANYA tentang
itu, tapi jelas tidak memungkinkan Anda untuk mengatakan Anda tahu NOTHING
tentang hal itu.
Fisika hanya itu - kemampuan kita untuk menggambarkan perilaku dari suatu sistem.
Tidak ada bukti yang lebih besar untuk menunjukkan bahwa kita tahu sedikit tentang
sesuatu ketika kita dapat membuat prediksi kuantitatif dari apa sesuatu yang akan
dilakukan. Lihatlah elektronik modern Anda. Saya bahkan akan mengatakan bahwa kita
tahu lebih banyak tentang gravitasi dari yang Anda tahu lebih banyak tentang perilaku
kerabat terdekat.

www.physicsforums.com/showthread.php?t=249229






Tugas I

Rabu, 06 Oktober 2010

Beras Nasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Nasi



Nasi putih
Nasi adalah beras (atau kadang-kadang serealia lain) yang telah direbus (dan ditanak). Proses perebusan beras dikenal juga sebagai 'tim'. Penanakan diperlukan untuk membangkitkan aroma nasi dan membuatnya lebih lunak tetapi tetap terjaga konsistensinya. Pembuatan nasi dengan air berlebih dalam proses perebusannya akan menghasilkan bubur.
Warna nasi yang telah masak (tanak) berbeda-beda tergantung dari jenis beras yang digunakan. Pada umumnya, warna nasi adalah putih bila beras yang digunakan berwarna putih. Beras merah atau beras hitam akan menghasilkan warna nasi yang serupa dengan warna berasnya. Kandungan amilosa yang rendah pada pati beras akan menghasilkan nasi yang cenderung lebih transparan dan lengket. Ketan, yang patinya hanya mengandung sedikit amilosa dan hampir semuanya berupa amilopektin, memiliki sifat semacam itu. Beras Jepang (japonica) untuk sushi mengandung kadar amilosa sekitar 12-15% sehingga nasinya lebih lengket daripada nasi yang dikonsumsi di Asia Tropika, yang kadar amilosanya sekitar 20%. Pada umumnya, beras dengan kadar amilosa lebih dari 24% akan menghasilkan nasi yang 'pera' (tidak lekat, keras, dan mudah terpisah-pisah).
Nasi dimakan oleh sebagian besar penduduk Asia sebagai sumber karbohidrat utama dalam menu sehari-hari. Nasi sebagai makanan pokok biasanya dihidangkan bersama lauk sebagai pelengkap rasa dan juga melengkapi kebutuhan gizi seseorang. Nasi dapat diolah lagi bersama bahan makanan lain menjadi masakan baru, seperti pada nasi goreng, nasi kuning atau nasi kebuli. Nasi bisa dikatakan makanan pokok bagi masyarakat di Asia, khususnya Asia Tenggara.



Kata "beras" mengacu pada bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi)dan 'lemma' (bagian yang menutupi).

Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.
Beras dari padi ketan disebut ketan.
Anatomi beras
Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari
  • aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit,
  • endospermia, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan
  • embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

Kandungan beras

Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:
  • amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang
  • amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket
Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Macam dan warna beras

Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.
Beras "biasa" yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.
Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.
Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.
Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.
Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.
Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.

Aspek pangan

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Selain itu, beras merupakan komponen penting beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan Air tajin.
Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung rice bran. Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen dengan sebutan tepung mata beras.
Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.
Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang bewarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg 0,31 mg.
Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, sernutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang. Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan). Dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase.
Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan, peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik-peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain

Aspek budaya dan bahasa

Beras merupakan bagian integral, dapat dikatakan menjadi penciri dari budaya Austronesia, khususnya Austronesia bagian barat. Istilah Austronesia lebih merupakan istilah yang mengacu pada aspek kebahasaan (linguistik).
Pembedaan padi, gabah, merang, jerami, beras, nasi, atau ketan, merupakan salah satu ciri melekatnya "budaya padi" pada masyarakat pengguna keluarga bahasa Austronesia, dan dengan demikian juga bagian dari budaya Austronesia.
Sejumlah relief pada candi-candi di Jawa juga memperlihatkan aspek "budaya padi" pada masyarakat setempat pada masa itu.


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Beras
Beras
Beras, putih, panjang, biasa
Nilai khasiat per 100 g
Tenaga 370 kkal   1530 kJ
Karbohidrat     79 g
- Gula  0.12 g
- Serat pangan  1.3 g  
Lemak 0.66 g
Protein 7.13 g
Air 11.62 g
Tiamina (Vit. B1)  0.070 mg   5%
Riboflavin (Vit. B2)  0.049 mg   3%
Niasin (Vit. B3)  1.6 mg   11%
Asam pantotenat (B5)  1.014 mg  20%
Vitamin B6  0.164 mg 13%
Asam folat (Vit. B9)  8 μg  2%
Zat besi  0.80 mg 6%
Fosforus  115 mg 16%
Kalium  115 mg   2%
|Kalsium  28 mg 3%
Magnesium  25 mg 7% 
Seng  1.09 mg 11%

Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi).
Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.
Beras dari padi ketan disebut ketan.

Daftar isi

[sembunyikan]

Anatomi beras

Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari
  • aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit,
  • endosperma, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan
  • embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

Kandungan beras

Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:
  • amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang
  • amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket
Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Macam dan warna beras

Berbagai macam beras dan ketan di Indonesia.
Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.
Beras "biasa" yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.
Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.
Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.
Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.
Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.
Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.

Aspek pangan

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin.
Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras.
Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.
Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg).
Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.
Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

Aspek budaya dan bahasa

Beras merupakan bagian integral, dapat dikatakan menjadi penciri dari budaya Austronesia, khususnya Austronesia bagian barat. Istilah Austronesia lebih merupakan istilah yang mengacu pada aspek kebahasaan (linguistik).
Pembedaan padi, gabah, merang, jerami, beras, nasi, atau ketan, merupakan salah satu ciri melekatnya "budaya padi" pada masyarakat pengguna keluarga bahasa Austronesia, dan dengan demikian juga bagian dari budaya Austronesia.
Sejumlah relief pada candi-candi di Jawa juga memperlihatkan aspek "budaya padi" pada masyarakat setempat pada masa itu.

Produksi padi (gabah kering giling) 10 negara terbesar tahun 2007 (dalam juta metrik ton)

Produksi padi per negara — 2007
(million metric ton)[1]
Bendera Republik Rakyat Cina Republik Rakyat Cina 187
Bendera India India 144
Bendera Indonesia Indonesia 57
Bendera Bangladesh Bangladesh 43
Bendera Vietnam Vietnam 35
Bendera Thailand Thailand 32
Bendera Myanmar Myanmar 31
Bendera Filipina Filipina 16
Bendera Brasil Brasil 11
Bendera Jepang Jepang 10
Sumber:
fao.org














 

Impor beras indonesia (dalam ribuan ton)

Tahun Produksi (kiloton)
1983 1.169
1984 403
1985 -371 (swasembada beras)
1986 -213
1987
1988 13
1989 325
1990 32
1991 179
1992 561
1993 -540
1994 643
1995 3.104
1996 1.090
1997 406
1998 6.077
1999 4.183
2000 1.512
2001 1.404
2002 3.703
2003 550 [5]
2004 0 (impor dilarang)
2005 0 (surplus 16 ribu ton)[6]
2006 150
2007 500 [7]
2008 0 [8]
2009 0 (perkiraan)
Sumber: BPS dan The Rice Report, 2003

Pages